Pages

Minggu, 28 Oktober 2012

PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL THINK PAIR SHARE (TPS) DAN RPP PADA MATA PELAJARAN EKONOMI


Next >> Contoh Artikel Nasional Pemenang Lomba Blog

Next> > Contoh Paper Internasional Conference

Next>> Contoh Karya Ilmiah Pemenang Nasional

Next>> Contoh Artikel Ilmiah Internasional

Next>> Contoh Esai /Essay Ilmiah Pemenang Limas UI

FB : Ade Suyitno Adeno. TWTR : @ade_suyitno.

PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL THINK PAIR SHARE (TPS)
PADA MATA PELAJARN EKONOMI

Model pembelajaran merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu program pembelajaran. Pembelajaran yang dilakukan di indonesia rata-rata masih menggunakan metode konvensional, hal ini disebabkan oleh siswa yang tidak bisa mandiri. Metode pembelajaran yang kurang bervariasi menyebabkan siswa merasa bosan belajar. Selain itu tingkat pengetahuan yang dimiliki perserta didik masih diperlukan pengawasan yang cukup dari guru. Dengan metode ceramah kebanyakan siswa tidak dapat berkembang dan kurang berperan aktif dalam proses pembelajaran serta pengetahuan yang diterima siswa kurang meluas. Pada umumnya guru masih menggunakan metode konvensional (ceramah), membahas LKS, dan tanya jawab, yang mana dalam tanya jawab tersebut hanya siswa tertentu saja yang mau bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru sehingga pembelajaran kurang bervariasi. Hal tersebut menyebabkan siswa merasa bosan dan cenderung meremehkan guru dengan ramai sendiri bersama teman sebangkunya, maka akan membuat motivasi belajar siswa rendah. 

Rendahnya motivasi belajar ekonomi dan sikap siswa tersebut berdampak terhadap hasil belajar. Selain itu, pembelajaran yang digunakan guru masih bersifat tradisional. Pada materi tertentu terkadang menggunakan diskusi, namun sebatas diskusi konvensional, sehingga sering dijumpai siswa yang masih tergantung pada teman atau guru dan siswa cenderung malas untuk berfikir. Untuk mengatasi permasalahan di atas, diperlukan suatu metode pembelajaran yang melibatkan peran aktif siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar, sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Upaya peningkatan motivasi dan hasil belajar ekonomi siswa dilakukan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share(TPS).


Think Pair Share (TPS) merupakan suatu teknik sederhana dengan keuntungan besar. Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, Think Pair Share (TPS) juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas. Think Pair Share (TPS) sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented).

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya dan sebagai salah satu alternatif pembelajaran inovatif yang dapat mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan proses interaksi di antara individu yang dapat digunakan sebagai sarana interaksi sosial di antara siswa dan sekaligus menjawab masalah yang ada dalam proses pembelajaran di sekolah.

Pembelajaran Kooperatif  Model Think-Pair-Share (TPS)
Think-Pair-Share (TPS) atau berpikir, berpasangan, berbagi  merupakan  suatu metode pembelajaran kooperatif. Model Think-Pair-Share (TPS) tumbuh dari penelitian pembelajaran kooperatif, model Think-Pair-Share (TPS) dapat juga disebut sebagai model belajar mengajar berpasangan. Model ini pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman dari Universitas Maryland Think-Pair-Share (TPS) sebagai struktur kegiatan pembelajaran gotong royong. Model ini memberikan kesempatan siswa untuk bekerja sendiri serta bekerjasama dengan siswa lain. 

Model pembelajaran Think-Paire-Share dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawan dari Universitas Maryland tahun 1985. Think-Paire-Share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana yang memberi kesempatan kepada pada untuk siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan model pembelajaran ini, yaitu mampu mengoptimalkan partisipasi siswa (Lie, 2004:57).

Think-Pair-Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi waktu lebih banyak pada siswa untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Model Think-Pair-Share (TPS) sebagai ganti dari tanya jawab seluruh kelas. Sebagai suatu model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) memiliki langkah-langkah tertentu. 

Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran Think-Paire-Share adalah:

  1. Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok.
  2. Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas sendiri.
  3. Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya.
  4. Kedua pasangan bertemu kemnali dalam kelompok berempat. Siswa berkesempatan  untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat (Lie, 2004:58).
Tahap utama dalam pembelajaran Think-Paire-Share menurut Ibrahim (2000:26-27) adalah sebagai berikut:
Tahap 1. Thinking (berpikir)
Guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi pelajaran. Kemudian siswa diminta memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
Tahap 2. Pairing (berpasangan)
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Dalam tahap ini, setiap anggota pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan merumuskan jawaban yang dianggap paling benar atau paling meyakinkan.
Tahap 3. Sharing (berbagi)
Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan, keterampilan berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melapirkan hasil kerja kelompoknya atau bergiliran dengan pasangan hingga sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
Model pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, karena siswa harus saling melaporkan hasil pemikiran masing-masing dan berbagi (berdiskusi) dengan pasangannya. Selanjutnya pasangan-pasangan tersebut harus berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota kelompok yang kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat secara aktif.
Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah:
  1. Memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan.
  2. Siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah.
  3. Siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang.
  4. Siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar.
  5. Memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran (Hartina, 2008: 12).
Pembelajaran kooperatif Model think pair share pada pembelajaran ekonomi
Kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat berjalan dengan baik jika ditunjang oleh berbagai komponen pembelajaran yang efektif dan memadai, disamping itu guru sebagai pengajar sekaligus pendidik dituntut untuk lebih kreatif dan selektif didalam memilih metode pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran di sekolah. Penerapan metode pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share (TPS) merupakan salah satu metode kooperatif yang efektif  yang sangat baik untuk diterapkan seorang guru guna meningkatkan prestasi belajar siswa. Disamping itu penerapan metode pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share (TPS) siswa dituntut untuk mengolah terlebih dahulu kemampuannya sendiri setelah itu baru masing-masing siswa diminta untuk saling berpasangan dengan teman sebangkunya untuk mendiskusikan hasil fikirannya, dan pada akhirnya pasangan-pasangan itu diminta untuk saling berbagi jawaban dengan teman sekelasnya melalui mekanisme diskusi. Pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share (TPS) menuntut keterlibatan, kerjasama dan gotong-royong dalam proses pelaksanaanya sehingga terjadi interaksi, komonikasi antar siswa, penguasaan materi dalam proses pembelajaran lebih berhasil hal ini sangat cocok untuk beberapa pembahasan di pelajaran ekonomi.

Think-Pair-Share (TPS) pertama kali dikembangkan oleh Lyman pada tahun 1981. Resiko dalam pembelajaran TPS relatif rendah dan struktur pembelajaran kolaboratif pendek, sehingga sangat ideal bagi guru dan siswa yang baru belajar kolaboratif.  TPS merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. TPS menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota).
TPS memiliki prosedur belajar yang terdiri atas siklus regular dari aktivitas pembelajaran kooperatif. Namun, tahapan TPS dimasukkan sebagai tahapan review setelah siswa bekerja dalam tim. Adapaun siklus regular pembelajaran yang dimaksud adalah :
1.                   Tahapan pengajaran
2.                   Tahapan belajar tim
3.                   Tahapan tps
4.                   Tahapan penilaian
5.                   Tahapan rekognisi/penghargaan.

Dalam TPS, guru menantang dengan pertanyaan terbuka dan memberi siswa setengah sampai satu menit untuk memikirkan pertanyaan itu. Hal ini penting karena memberikan kesempatan siswa untuk mulai merumuskan jawaban dengan mengambil informasi dari memori jangka panjang. Siswa kemudian berpasangan dengan satu anggota kelompok kolaboratif atau tetangga yang duduk di dekatnya dan mendiskusikan ide-ide mereka tentang pertanyaan selama beberapa menit.

Guru dalam hal ini dapat mengatur pasangan yang tidak sekelompok untuk menciptakan variasi gaya gaya belajar bagi siswa. Struktur TPS memberikan kesempatan yang sama pada semua siswa untuk mendiskusikan ide-ide mereka.  Hal ini penting karena siswa mulai untuk membangun pengetahuan mereka dalam diskusi ini, di samping untuk mengetahui apa yang mereka dapat lakukan dan belum ketahui. Proses aktif ini biasanya tidak tersedia bagi siswa dalam pembelajaran tradisional hal ini sangat cocok untuk beberapa pembahasan di pelajaran ekonomi.

Setelah beberapa menit guru dapat memilih secara acak pasangan yang ingin berbagi di hadapan kelas. Proses ini dapat dilakukan dengan meminta inisiatif siswa. Siswa biasanya lebih rela untuk merespon setelah mereka memiliki kesempatan untuk mendiskusikan ide-ide mereka dengan teman sekelas karena jika jawabannya salah, rasa malu dapat dirasakan bersama. Selain itu, tanggapan yang diterima sering lebih intelektual sehingga melalui proses ini siswa dapat mengubah atau merefleksi ide-ide mereka.

Struktur TPS juga meningkatkan keterampilan komunikasi lisan siswa ketika mereka mendiskusikan ide-ide mereka dengan satu sama lain. “Intermezzo” singkat ini juga dapat dijadikan kesempatan yang tepat bagi guru untuk membahas konsep yang akan didiskusikan atau dipelajari siswa pada periode berikutnya. Salah satu variasi dari struktur TPS ini adalah siswa dapat menuliskan pikiran mereka di sebuah kartu dan mengumpulkannya. Kemudian guru memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk melihat apakah ada masalah dalam pemahaman mereka.

Dalam Implementasinya secara teknis Howard (2006) mengemukakan lima langkah utama dalam pembelajaran dengan teknik TPS, sebagai berikut:
Step 1 : Guru memberitahukan sebuah topik dan  menyatakan berapa lama setiap siswa akan berbagi informasi dengan pasangan mereka.
Step 2  : Guru akan menetapkan waktu berpikir secara individual.
Step 3  : Dalam pasangan, pasangan A akan berbagi; pasangan B akan mendengar.
Step 4 : Pasangan B kemudian akan merespon pasangan A.
Step 5 : Pasangan berganti peran.
Pembelajaran kooperatif besar karena otak yang berbeda memungkinkan untuk berkonsentrasi pada ide-ide yang sama. Semua siswa berasal dari orang tua yang berbeda dan karena itu mereka memiliki kekuatan dalam bidang yang berbeda, sehingga hal ini cocok untuk pembelajaran kooperatif. Dalam Pembelajaran TPS, jika siswa tidak kuat dalam sebuah topik, atau tidak sepenuhnya memahami konsep ide, pasangan mereka dapat membantu memahami dan menjelaskannya kepada mereka. Jika siswa masih tidak mengerti mereka bisa mencoba untuk memberi pemahaman secara sederhana dan akrab. Biasanya dua otak bekerja lebih baik dari pada satu.

Pembelajaran TPS dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan idea tau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain. Membantu siswa untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan. Siswa dapat mengembangkan kemampuan untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri dan menerima umpan balik. Interaksi yang terjadi selama pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan memberi rangsangan untuk berpikir sehingga bermanfaat bagi proses pendidikan jangka panjang.

Pembelajaran TPS juga mengembangkan keterampilan, yang sangat penting dalam perkembangan dunia saat ini. Pembelajaran TPS bisa mengajarkan orang untuk bekerja bersama-sama dan lebih efisien, biasanya kegiatan praktik perlu dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Dengan bekerja sama, dua orang dapat menyelesaikan sesuatu lebih cepat hal ini sangat cocok untuk beberapa pembahasan di pelajaran ekonomi.

Aplikasi Pembelajarann Kooperatif  TPS pada RPP Ekonomi : 



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) EKONOMI
SMA N 2 BANDUNG
Mata Pelajaran                      : Ekonomi
Kelas/ Semester                    : X / 2
Pertemuan Ke                        : 16
Waktu                                     : 1 X Pertemuan (2 X 45 Menit}
Pengajar                                 : Ade Suyitno


I.                   STANDAR KOMPETENSI
4.        Memahami kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi

II.                KOMPETENSI DASAR
4.1    Mendeskripsikan masalah-masalah yang dihadapi pemerintah di bidang ekonomi
4.2    Mengidentifikasi kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi.

III.             MATERI POKOK
A.       Masalah-masalah yang dihadapi oleh pemerintah dalam bidang ekonomi:
·      Kemiskinan
Kemiskinana merupakan salah satu masalah yang dihadapai oleh Negara Indonesia.
·      Pengangguran
Penggangguran terjadi karena lapangan kerja yang tersedia tidak mampu menampung orang yang sudah masuk angkatan kerja.
·      Kesenjangan distribusi pendapatan
Kesenjangan distribusi pendapatan menunjukan perbedaan yang mencolok antara golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah dengan masyarakat yang berpenghasilan tinggi.
·      Ketimpangan neraca perdagangan internasional.
B.       Kebijakan ekonomi pemerintah:
Pembangunan ekonomi yang dilakukan pemerintah merupakan suatu proses multidimensional untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi. Kebijakan tersebut mencakup segala aspek ekonomi maupun non ekonomi.
·       Sasaran kebijakan ekonomi
 Menentukan sasaran yang akan dicapai dan kebijakan ekonomi
·       Strategi kebijakan ekonomi
 Untuk mencpai sasarannya, kebijakan ekonomi diarahkan pada:
1.     Peningkatan output yang tinggi dan terus-menerus
2.     Peningkatan penggunaan tenaga kerja tinggi dan penurunan pengangguran
3.      Pengurangan dan pemberantasan kemiskinan serta ketimpangan distribusi pendapatan
4.      Perubahan sosial, sikap mental dan tingkah laku masyarakat serta lembaga pemerintah
·       Bentuk kebijakan ekonomi
Pemasalahn ekonomi yang dihadapi tersebut diatasi dengan beberapa kebijakan nyata.
Kebijakan untuk mengatasi kemiskinan
·       Kebijakan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat
·       Pembangunan pertanian dan usaha kecil
·       Pembangunan sumber daya manusia
·       Peranan lembaga swadaya masyarakat
Kebijakan untuk mengatasi penggaguran
·       Meningkatkan program padat karya
·       Mendirikan balai latihan keterampilan
·       Meningkatkan industrialisasi
·       Menggiatkan program keluarga berencana
Kebijakan untuk mengatasi kesenjangan distribusi pendapatan
Program kebijakan pemerataan distribusi pendapatan ditunjukan untuk menaikan produktivitas tenaga kerja

IV.             INDIKATOR
4.2.1        Mendeskripsikan masalah-masalah yang dihadapi pemerintah dibidang  ekonomi
4.2.2        Menentukan alternatif memecahkan masalah yang dihadapi pemerintah dibidang ekonomi

V.                TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan pembelajaran, siswa diharapkan memiliki :
1.      Siswa dapat mendeskripsikan permasahalan dalam bidang ekonomi
2.      Siswa dapat mengidentifikasi kebijakan pemerintah untuk mengatasi permasalahan di bidang ekonomi

VI.             METODE/ MODEL PEMBELAJARAAN
Pendekatan                         :  Student Center Approach
Model                                  :  Cooperative Learning
Metode                                :  Ceramah dan Think Pair Share (TPS)

VII.          KEGIATAN PEMBELAJARAAN

LANGKAH
KEGIATAN
WAKTU
1. Orientasi
Guru memberi salam, mengkondisikan kelas untuk memusatkan perhatian siswa, mengecek kehadiran siswa, dan guru memeriksa kesiapan ruangan, alat atau media pembelajaran.
5’
2.  Appersepsi
Guru memberikan pertanyaan tentang materi yang telah diberikan.
3.  Motivasi
Guru memberikan ilustrasi model/ kasus yang mengarah pada materi yang akan dibahas
10’
4.  Eksplorasi dan konsolidasi
Langkah-langkah:
1.      Guru Menyampaikan kompetensi/ indikator yang ingin dicapai.
2.      Guru menjelaskan gambaran umum permasalahan di bidang ekonomi.
3.      Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk membaca dan memahami materi.
4.      Guru siswa ke dalam kelompok di mana setiap kelompok terdiri dari 2 orang yaitu teman satu meja yang masing-masing kelompok akan mendapat artikel studi kasus.
5.      Masing-masing kelompok berupaya untuk mencari berbagai jawaban dari soal yang di buat kelompok lain.
6.      Siswa dengan pasangannya akan mempresentasikan hasil pembahasan atas permasalahan yang di dapat.
7.      Siswa yang lain dipersilahkan untuk menanggapi hasil persentasi setiap kelompok
8.      Guru memberikan kesimpulan hasil diskusi kelompok
50’
5.  Evaluasi
Siswa menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan indikator  yang  telah dibahas, guru memberikan penilaian
10’
6.  Refleksi
Seorang siswa mewakili kelas dipersilahkan untuk menyampaikan pesan dan kesan yang dialami selama PBM
5’
7.  Penugasan
Guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah berkaitan dengan :
a.    Siswa mengklasifikasikan permasalahan di bidang ekonomi yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
b.    Mempelajari materi yang akan dibahas pada pertemuan yang akan datang
10’




VIII.       SUMBER DAN ALAT PEMBELAJARAN
·           Referensi buku ekonomi kelas X :
1.      Supriyanto (2012). Ekonomi SMA untuk Kelas X. Masmedia. Sidoarjo
2.      Mintiyasih Indriayu ( 2009). Ekonomi SMA X. Jakarta
3.      Ahman, Eeng. (2007). Ekonomi SMA Kelas X. Grafindo : Bandung
4.      Alam. (2007). Ekonomi SMA Kelas X. Esis : Jakarta
·           Masyarakat sekitar, kantin, koperasi dll
·           Keluarga siswa
·           Koran/ Majalah/ Gambar/ CD Pembelajaran
·           Alat pembelajaran : LCD dan Laptop

IX.             PENILAIAN
Prosedur                      : Penilaian dilakukan selama proses dan setelah kegiatan
  pembelajaran
Bentuk Tagihan           : Tes Tertulis dan Penugasan.
Jenis Tagihan               : Tugas Individu dan kelompok
Bntuk Instrument        : Presentasi, Uraian dan pilihan ganda, Hasil diskusi dikelas,
  Hasil lembar kerrja Tugas Rumah Individu dan Kelompok
Pembobotan Nilai       :
BENTUK PENILAIAN
SOAL
NILAI
JUMLAH
Pilihan ganda
Satu soal
1
10
Jawaban Uraian
1
1
10
2
2
3
2
4
2
5
3
       Skor Tertinggi = PG + Esai/2 = 10
       Penilaian proses diskusi dan keaktifan siswa :

No
Nama
Aspek yang dinilai
Keterangan
Mengemukakan
Ide / pertanyaan / jawaban
1



2



3



4



5







Kepustakaan Jurnal:
Anita, Lie. 2004. Cooperative Learning: Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT.Gransindo

Hartina. 2008. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Paire Share (TPS) terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 5 Makassar (Studi pada Materi Pokok Laju Reaksi). Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA, UNM.

Ibrahim, Muslimin, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya University Press

Nurhadi, dkk. 2003. Pembelajaran Konstekstual (Cooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas). Jakarta: Gramedia Widiasarana.

PERAN MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN DALAM MEMBANGUN INDONESIA DI ERA GLOBAL


Ade Suyitno
Curriculum Vitae

Ade Suyitno
Pendiri Indonesian Creative Youth (ICY)
dan Sekolah Alam Kreatif (Creative Nature School) Bandung
085659932860
FB : Ade Suyitno Adeno. TWTR : @adeno.

PERAN MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN
DALAM MEMBANGUN INDONESIA
DI ERA GLOBAL

Ade Suyitno, Mahasiswa Pendidikan Ekonomi/FPEB/UPI
Dinamika pendidikan indonesia sekarang sangatlah cepat mengikuti perkembangan zaman dan di era lobal ini istilah pendidikan karakter kembali menjadi pusat perhatian sebagai solusi alternatif atas segala permasalah yang ada di negeri ini. Sungguh berat tanggung jawab yang di tanggung pendidikan nasional dan menghadapi tantangan arus besar globalisasi. Perdebatan sekarang adalah bukan terlalu membahas kenapa hal itu semua terjadi tapi bagaiman solusinya yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional terlebih lagi bagaimana peran kita sebagai mahasiswa untuk mendukung hal itu dan menjadi bagian dalam usaha mencapai tujuan luhue pendidikan sional indonesia.

Solusi yang bisa dilakukan mahasiswa khususnya mahasiswa prodi pendidikan dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional :
  1. Turu serta dalam pengembangan pendidikan melalui penelitian, pengembangan dan penemuan baru dalam proses pembelajaran. (knowladge transfer) Melalui KKN PPL, Karya tulis penelitian dan gagasan, seminar mahasiswa dan guru
  2. Meningkatkan Kualitas diri sebagai pribadi profesional dalam pendidikan karna kelak akan menjadi Guru yang akan mendidik generasi penerus bangsa. Ikut pelatihan, di tingkatkan hard skill dalam perkuliahan dan soft skill dalam organisasi, pelatihan, seminar.
  3. Belajar mandiri melalui Pendidikan Kewirausahaan.



PENGEMBANGAN DIRI PESERTA DIDIK DALAM IMPLEMETASI PENDIDIKAN KARAKTER DAN BUDAYA DI SEKOLAH MELALUI GURU DAN EKSTRAKULIKULER DI ERA GLOBAL


Ade Suyitno
Curriculum Vitae

Ade Suyitno
Pendiri Indonesian Creative Youth (ICY)
dan Sekolah Alam Kreatif (Creative Nature School) Bandung
085659932860
FB : Ade Suyitno Adeno. TWTR : @adeno.

PENGEMBANGAN DIRI PESERTA DIDIKDALAM IMPLEMETASI PENDIDIKAN KARAKTER 
DAN BUDAYA DI SEKOLAH MELALUI GURU 
DAN EKSTRAKULIKULER DI ERA GLOBAL
Ade Suyitno


Pada era global seperti sekarang ini persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu mengenai berbagai aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, dan gelar wicara di media elektronik, tidak saja terjadi di kalangan  masyarakat awam tetapi juga sudah merambah ke kepribadian para profesional, tokoh masyarakat, para terpelajar bahkan hingga para pemimpin bangsa dan negara yang di latar belakangi maraknya kasus mulai dari kriminalitas pelajar sampai korupsi di kalngan pejabat. Globalisasi telah mencapai seluruh sektor kehidupan masyarakat. Terutama sains, teknologi, dan informasi. Hal ini memungkinkan interaksi sosial lebih terbuka dan cepat, termasuk arus budaya asing lewat fasilitas internet dan jejaring sosial. Namun, interaksi sosial yang kurang proporsional juga berpeluang meningkatkan kesenjangan antar anggota masyarakat yang berakibat disintegrasi. Selain itu, juga berpotensi menurunkan nilai luhur bangsa, melemahkan sendi kepribadian, khususnya generasi bangsa.
Alternatif yang menjadi sorotan adalah pendidikan karakter di sekolah sebagai preventif dan media pengembangan karakter peserta didik yang akan menjadi generasi penerus bangsa sebagai solusininya. Hal ini juga senada dengan Presiden Susilo Bambang Yudhiyono yang akhirnya mencanangkan gerakan pendidikan karakter pada tanggal 20 mei 2011. Merebaknya kasus – kasus kriminalitas mulai dari pelajar sampai korupsi di kalangan pejabat menandakan perlunya pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek kognitif tetapi juga penanaman nilai-nilai kehidupan dan budaya pada peserta didiknya.
Pada tahap implementasinya pendidikan karakter dan budaya di sekolah -sekolah sebagai ujung tombak strategisnya adalah guru yang beriteraksi langsung dengan siswa sesuai dan peranannya dalam pendidikan sesuai Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Kemudian untuk pengembangan diri membentuk peserta didik yang berkarakter sesuai potensinya di sekolah di dukunglah ekstrakurikuler yang akan menampung aspirasi dan kegiatan pengembangan soft skillnya untuk menggali potensinya masing-masing.
Penulisan karya tulis ini bertujuan untuk mengetahuai permasalahan dan solusinya dalam perkembangan dan implementasi pendidikan karakter dan budaya di sekolah melalui optimalisasi guru dan ekstrakulikuler. Penulisan dalam karya tulis ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan penelitian  dekstritip ekspolatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam karya tulis ini menggunakan teknik studi pustaka. Sintesis dalam penulisan ini adalah pada model implementasi pendidikan karakter melalui optimalisasi peran guru dan ekstrakulikuler sebagai media pengembangan diri peserta didik supaya mempunyai karakter sesuai potensinya dan berbudaya indonesia.
Pendidikan karakter dan budaya di sekolah sangatlah penting dan harus segera di implementasikan sebagai preventif atas maraknya kasus kriminalitas pelajar sampai korupsi di kalangan pejabat dan juga sebagai pengembangan karakter setiap peserta didik untuk bisa mengembangkan potensi sesuai karakter dirinya dan berbudaya bangsa dengan pendidikan karekter dan budaya melalui optimalisasi peran guru dan ekstrakurikuler yang ada di sekolah karna kedua hal inilah yang menjadi ujung tombak strategi implementasi dan di dukung sepenuhnya oleh komponen-komponen sekolah. Guru sebagai sosok pendidik di kelas dan luar kelas, manajer dalam kelas dan dalam proses pembelajaran yang tahu  dan bisa mengembangkan potensi peserta didiknya yang kemudian di sinergiskan dengan ekstrakulikuler yang ada di sekolah yang berbentuk unit kegiatan siswa dari mulai tentang organisasai, keagamaan, seni budaya, pramuka, kelompok ilmiah sampai dengan KOPSIS dan kelompok siswa wirausaha.
Pada tahap implementasinya pendidikan karakter dan budaya di sekolah -sekolah sebagai ujung tombak strategisnya adalah guru yang beriteraksi langsung dengan siswa sesuai dan peranannya dalam pendidikan sesuai Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Kemudian untuk pengembangan diri membentuk peserta didik yang berkarakter sesuai potensinya di sekolah di dukunglah ekstrakurikuler yang akan menampung aspirasi dan kegiatan pengembangan soft skillnya untuk menggali potensinya masing-masing tentunya juga hal ini di dukung oleh komponen-komponen sekolah lainnya. Ini model oleh penulis :



Implementasi pendidikan karakter dan budaya di sekolah
Guru sebagai Pengembang dan Teladan dalam Proses Pendidikan karakter dan budaya
Pembelajaran pendidikan budaya dan karakter bangsa menggunakan pendekatan proses belajar peserta didik secara aktif dan berpusat pada anak; dilakukan melalui berbagai kegiatan di kelas, sekolah, dan masyarakat
1. Kelas, melalui proses belajar setiap mata pelajaran atau kegiatan yang dirancang sedemikian rupa. Setiap kegiatan belajar mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Oleh karena itu, tidak selalu diperlukan kegiatan belajar khusus untuk mengembangkan nilai-nilai pada pendidikan budaya dan karakter bangsa. Meskipun demikian, untuk pengembangan nilai-nilai tertentu seperti kerja keras, jujur, toleransi, disiplin, mandiri, semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan gemar membaca dapat melalui kegiatan belajar yang biasa dilakukan guru. Untuk pegembangan beberapa nilai lain seperti peduli sosial, peduli lingkungan, rasa ingin tahu, dan kreatif memerlukan upaya pengkondisian sehingga peserta didik memiliki kesempatan untuk memunculkan perilaku yang menunjukkan nilai-nilai itu.
2. Sekolah, guru memberikan contoh sebagai warga sekolah yang baik yang berprilaku sesuai tata tertib sekolah dan etika profesional sebagai guru. Jangan sampai ada kasus seperti ini ada guru yang memarahi muridnya untuk tidak merokok sedangkan guru tersebut sering merokok saatberada di sekolah.
3. Luar sekolah, melalui kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan lain yang diikuti oleh seluruh atau sebagian peserta didik, dirancang sekolah sejak awal tahun pelajaran, dan dimasukkan ke dalam Kalender Akademik dan guru berperan aktif di situ sebagai manajer kegiatan. Misalnya, kunjungan ke tempat-tempat yang menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air, menumbuhkan semangat kebangsaan, melakukan pengabdian masyarakat untuk menumbuhkan kepedulian dan kesetiakawanan sosial (membantu mereka yang tertimpa musibah banjir, memperbaiki atau membersihkan tempat-tempat umum, membantu membersihkan atau mengatur barang di tempat ibadah tertentu).
Guru sebagai Pengembang RPP dan Silabus dengan di sertai nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa
Pengembangan nilai-nilai pendidikan budaya dan karakater bangsa diintegrasikan dalam setiap pokok bahasan dari setiap mata pelajaran. Nilai-nilai tersebut dicantumkan dalam silabus dan RPP. Pengembangan nilai-nilai itu dalam silabus ditempuh melalui cara-cara berikut ini:
a. mengkaji Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) pada Standar Isi (SI) untuk menentukan apakah nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang tercantum itu sudah tercakup di dalamnya;
c. mencantumkankan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam tabel 1 itu ke
dalam silabus;
d. mencantumkan nilai-nilai yang sudah tertera dalam silabus ke dalam RPP;
e. mengembangkan proses pembelajaran peserta didik secara aktif yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan melakukan internalisasi nilai dan menunjukkannya dalam perilaku yang sesuai; dan
f. memberikan bantuan kepada peserta didik, baik yang mengalami kesulitan untuk menginternalisasi nilai maupun untuk menunjukkannya dalam perilaku.
Ekstrakulikuler
Kegiatan ekstrakurikuler adalah ajang pembentukan bakat dan ajang kreativitas siswa. Kegiatan eskul ditujukan agar siswa dapat mengembangkan kepribadian, bakat dan kemampuannya di berbagai bidang diluar akademik. Kegiatan ekskul adalah kegiatan non kurikuler yang diadakan oleh sekolah untuk menyalurkan minat dan bakat peserta didik sesuai dengan pilihan yang disukainya. Sekolah mewajibkan siswa untuk mengambil ekskul tertentu (minimal satu ekskul). Sekolah biasanya menyarankan siswa  mengikuti ekskul yang menjadi pilihannya setelah diadakan tes penyaluran minat dan bakat oleh tim psikologi yang ditunjuk oleh sekolah. Dari hasil tes itulah siswa diminta memilih ekskul sesuai saran dari hasil psikotes yang dibagikan kepada orang tua siswa.
Dalam pelaksanaannya, ternyata mengelola ekskul tak semudah membalikkan telapak tangan. Pengelolaannya harus benar-benar dilakukan secara professional dan perlu bimbingan dari guru oleh karenanya guru juga di tuntut berperan aktif di sini. Ekstrakulikuler yang ada di sekolah sering di sebut solusi ampuh untuk maminimalisir kegiatan-kegiatan negatif yang kadang di lakukan pelajar di luar jam belajar yang berbentuk unit kegiatan siswa dari mulai tentang organisasai, keagamaan, seni budaya, pramuka, kelompok ilmiah sampai dengan KOPSIS dan kelompok siswa wirausaha.
Dukungan Komponen dan Budaya Sekolah
Budaya sekolah cakupannya sangat luas, umumnya mencakup ritual, harapan, hubungan, demografi, kegiatan kurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, proses mengambil keputusan, kebijakan maupun interaksi sosial antarkomponen di sekolah. Budaya sekolah adalah suasana kehidupan sekolah tempat peserta didik berinteraksi dengan sesamanya, guru dengan guru, konselor dengan sesamanya, pegawai administrasi dengan sesamanya, dan antaranggota kelompok masyarakat sekolah. Interaksi internal kelompok dan antarkelompok terikat oleh berbagai aturan, norma, moral serta etika bersama yang berlaku di suatu sekolah.
Kepemimpinan, keteladanan, keramahan, toleransi, kerja keras, disiplin, kepedulian sosial, kepedulian lingkungan, rasa kebangsaan, dan tanggung jawab merupakan nilai-nilai yang dikembangkan dalam budaya sekolah. Pengembangan nilai-nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa dalam budaya sekolah mencakup kegiatan-kegiatan yang dilakukan kepala sekolah, guru, konselor, tenaga administrasi ketika berkomunikasi dengan peserta didik dan menggunakan fasilitas sekolah.