Pages

Minggu, 28 Oktober 2012

PENGEMBANGAN DIRI PESERTA DIDIK DALAM IMPLEMETASI PENDIDIKAN KARAKTER DAN BUDAYA DI SEKOLAH MELALUI GURU DAN EKSTRAKULIKULER DI ERA GLOBAL


Ade Suyitno
Curriculum Vitae

Ade Suyitno
Pendiri Indonesian Creative Youth (ICY)
dan Sekolah Alam Kreatif (Creative Nature School) Bandung
085659932860
FB : Ade Suyitno Adeno. TWTR : @adeno.

PENGEMBANGAN DIRI PESERTA DIDIKDALAM IMPLEMETASI PENDIDIKAN KARAKTER 
DAN BUDAYA DI SEKOLAH MELALUI GURU 
DAN EKSTRAKULIKULER DI ERA GLOBAL
Ade Suyitno


Pada era global seperti sekarang ini persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu mengenai berbagai aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, dan gelar wicara di media elektronik, tidak saja terjadi di kalangan  masyarakat awam tetapi juga sudah merambah ke kepribadian para profesional, tokoh masyarakat, para terpelajar bahkan hingga para pemimpin bangsa dan negara yang di latar belakangi maraknya kasus mulai dari kriminalitas pelajar sampai korupsi di kalngan pejabat. Globalisasi telah mencapai seluruh sektor kehidupan masyarakat. Terutama sains, teknologi, dan informasi. Hal ini memungkinkan interaksi sosial lebih terbuka dan cepat, termasuk arus budaya asing lewat fasilitas internet dan jejaring sosial. Namun, interaksi sosial yang kurang proporsional juga berpeluang meningkatkan kesenjangan antar anggota masyarakat yang berakibat disintegrasi. Selain itu, juga berpotensi menurunkan nilai luhur bangsa, melemahkan sendi kepribadian, khususnya generasi bangsa.
Alternatif yang menjadi sorotan adalah pendidikan karakter di sekolah sebagai preventif dan media pengembangan karakter peserta didik yang akan menjadi generasi penerus bangsa sebagai solusininya. Hal ini juga senada dengan Presiden Susilo Bambang Yudhiyono yang akhirnya mencanangkan gerakan pendidikan karakter pada tanggal 20 mei 2011. Merebaknya kasus – kasus kriminalitas mulai dari pelajar sampai korupsi di kalangan pejabat menandakan perlunya pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek kognitif tetapi juga penanaman nilai-nilai kehidupan dan budaya pada peserta didiknya.
Pada tahap implementasinya pendidikan karakter dan budaya di sekolah -sekolah sebagai ujung tombak strategisnya adalah guru yang beriteraksi langsung dengan siswa sesuai dan peranannya dalam pendidikan sesuai Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Kemudian untuk pengembangan diri membentuk peserta didik yang berkarakter sesuai potensinya di sekolah di dukunglah ekstrakurikuler yang akan menampung aspirasi dan kegiatan pengembangan soft skillnya untuk menggali potensinya masing-masing.
Penulisan karya tulis ini bertujuan untuk mengetahuai permasalahan dan solusinya dalam perkembangan dan implementasi pendidikan karakter dan budaya di sekolah melalui optimalisasi guru dan ekstrakulikuler. Penulisan dalam karya tulis ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan penelitian  dekstritip ekspolatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam karya tulis ini menggunakan teknik studi pustaka. Sintesis dalam penulisan ini adalah pada model implementasi pendidikan karakter melalui optimalisasi peran guru dan ekstrakulikuler sebagai media pengembangan diri peserta didik supaya mempunyai karakter sesuai potensinya dan berbudaya indonesia.
Pendidikan karakter dan budaya di sekolah sangatlah penting dan harus segera di implementasikan sebagai preventif atas maraknya kasus kriminalitas pelajar sampai korupsi di kalangan pejabat dan juga sebagai pengembangan karakter setiap peserta didik untuk bisa mengembangkan potensi sesuai karakter dirinya dan berbudaya bangsa dengan pendidikan karekter dan budaya melalui optimalisasi peran guru dan ekstrakurikuler yang ada di sekolah karna kedua hal inilah yang menjadi ujung tombak strategi implementasi dan di dukung sepenuhnya oleh komponen-komponen sekolah. Guru sebagai sosok pendidik di kelas dan luar kelas, manajer dalam kelas dan dalam proses pembelajaran yang tahu  dan bisa mengembangkan potensi peserta didiknya yang kemudian di sinergiskan dengan ekstrakulikuler yang ada di sekolah yang berbentuk unit kegiatan siswa dari mulai tentang organisasai, keagamaan, seni budaya, pramuka, kelompok ilmiah sampai dengan KOPSIS dan kelompok siswa wirausaha.
Pada tahap implementasinya pendidikan karakter dan budaya di sekolah -sekolah sebagai ujung tombak strategisnya adalah guru yang beriteraksi langsung dengan siswa sesuai dan peranannya dalam pendidikan sesuai Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Kemudian untuk pengembangan diri membentuk peserta didik yang berkarakter sesuai potensinya di sekolah di dukunglah ekstrakurikuler yang akan menampung aspirasi dan kegiatan pengembangan soft skillnya untuk menggali potensinya masing-masing tentunya juga hal ini di dukung oleh komponen-komponen sekolah lainnya. Ini model oleh penulis :



Implementasi pendidikan karakter dan budaya di sekolah
Guru sebagai Pengembang dan Teladan dalam Proses Pendidikan karakter dan budaya
Pembelajaran pendidikan budaya dan karakter bangsa menggunakan pendekatan proses belajar peserta didik secara aktif dan berpusat pada anak; dilakukan melalui berbagai kegiatan di kelas, sekolah, dan masyarakat
1. Kelas, melalui proses belajar setiap mata pelajaran atau kegiatan yang dirancang sedemikian rupa. Setiap kegiatan belajar mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Oleh karena itu, tidak selalu diperlukan kegiatan belajar khusus untuk mengembangkan nilai-nilai pada pendidikan budaya dan karakter bangsa. Meskipun demikian, untuk pengembangan nilai-nilai tertentu seperti kerja keras, jujur, toleransi, disiplin, mandiri, semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan gemar membaca dapat melalui kegiatan belajar yang biasa dilakukan guru. Untuk pegembangan beberapa nilai lain seperti peduli sosial, peduli lingkungan, rasa ingin tahu, dan kreatif memerlukan upaya pengkondisian sehingga peserta didik memiliki kesempatan untuk memunculkan perilaku yang menunjukkan nilai-nilai itu.
2. Sekolah, guru memberikan contoh sebagai warga sekolah yang baik yang berprilaku sesuai tata tertib sekolah dan etika profesional sebagai guru. Jangan sampai ada kasus seperti ini ada guru yang memarahi muridnya untuk tidak merokok sedangkan guru tersebut sering merokok saatberada di sekolah.
3. Luar sekolah, melalui kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan lain yang diikuti oleh seluruh atau sebagian peserta didik, dirancang sekolah sejak awal tahun pelajaran, dan dimasukkan ke dalam Kalender Akademik dan guru berperan aktif di situ sebagai manajer kegiatan. Misalnya, kunjungan ke tempat-tempat yang menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air, menumbuhkan semangat kebangsaan, melakukan pengabdian masyarakat untuk menumbuhkan kepedulian dan kesetiakawanan sosial (membantu mereka yang tertimpa musibah banjir, memperbaiki atau membersihkan tempat-tempat umum, membantu membersihkan atau mengatur barang di tempat ibadah tertentu).
Guru sebagai Pengembang RPP dan Silabus dengan di sertai nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa
Pengembangan nilai-nilai pendidikan budaya dan karakater bangsa diintegrasikan dalam setiap pokok bahasan dari setiap mata pelajaran. Nilai-nilai tersebut dicantumkan dalam silabus dan RPP. Pengembangan nilai-nilai itu dalam silabus ditempuh melalui cara-cara berikut ini:
a. mengkaji Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) pada Standar Isi (SI) untuk menentukan apakah nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang tercantum itu sudah tercakup di dalamnya;
c. mencantumkankan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam tabel 1 itu ke
dalam silabus;
d. mencantumkan nilai-nilai yang sudah tertera dalam silabus ke dalam RPP;
e. mengembangkan proses pembelajaran peserta didik secara aktif yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan melakukan internalisasi nilai dan menunjukkannya dalam perilaku yang sesuai; dan
f. memberikan bantuan kepada peserta didik, baik yang mengalami kesulitan untuk menginternalisasi nilai maupun untuk menunjukkannya dalam perilaku.
Ekstrakulikuler
Kegiatan ekstrakurikuler adalah ajang pembentukan bakat dan ajang kreativitas siswa. Kegiatan eskul ditujukan agar siswa dapat mengembangkan kepribadian, bakat dan kemampuannya di berbagai bidang diluar akademik. Kegiatan ekskul adalah kegiatan non kurikuler yang diadakan oleh sekolah untuk menyalurkan minat dan bakat peserta didik sesuai dengan pilihan yang disukainya. Sekolah mewajibkan siswa untuk mengambil ekskul tertentu (minimal satu ekskul). Sekolah biasanya menyarankan siswa  mengikuti ekskul yang menjadi pilihannya setelah diadakan tes penyaluran minat dan bakat oleh tim psikologi yang ditunjuk oleh sekolah. Dari hasil tes itulah siswa diminta memilih ekskul sesuai saran dari hasil psikotes yang dibagikan kepada orang tua siswa.
Dalam pelaksanaannya, ternyata mengelola ekskul tak semudah membalikkan telapak tangan. Pengelolaannya harus benar-benar dilakukan secara professional dan perlu bimbingan dari guru oleh karenanya guru juga di tuntut berperan aktif di sini. Ekstrakulikuler yang ada di sekolah sering di sebut solusi ampuh untuk maminimalisir kegiatan-kegiatan negatif yang kadang di lakukan pelajar di luar jam belajar yang berbentuk unit kegiatan siswa dari mulai tentang organisasai, keagamaan, seni budaya, pramuka, kelompok ilmiah sampai dengan KOPSIS dan kelompok siswa wirausaha.
Dukungan Komponen dan Budaya Sekolah
Budaya sekolah cakupannya sangat luas, umumnya mencakup ritual, harapan, hubungan, demografi, kegiatan kurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, proses mengambil keputusan, kebijakan maupun interaksi sosial antarkomponen di sekolah. Budaya sekolah adalah suasana kehidupan sekolah tempat peserta didik berinteraksi dengan sesamanya, guru dengan guru, konselor dengan sesamanya, pegawai administrasi dengan sesamanya, dan antaranggota kelompok masyarakat sekolah. Interaksi internal kelompok dan antarkelompok terikat oleh berbagai aturan, norma, moral serta etika bersama yang berlaku di suatu sekolah.
Kepemimpinan, keteladanan, keramahan, toleransi, kerja keras, disiplin, kepedulian sosial, kepedulian lingkungan, rasa kebangsaan, dan tanggung jawab merupakan nilai-nilai yang dikembangkan dalam budaya sekolah. Pengembangan nilai-nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa dalam budaya sekolah mencakup kegiatan-kegiatan yang dilakukan kepala sekolah, guru, konselor, tenaga administrasi ketika berkomunikasi dengan peserta didik dan menggunakan fasilitas sekolah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar